Bunga Madrasah, Bunga Negara

Pak Totok, begitu sapaan akrabnya di madrasah kami, MAN 2 Jombang di lngkungan Pondok Pesantren Darul Ulum. Sosok bernama lengkap Totok Mardianto ini lahir di Jombang pada tanggal 28 Desember 1960 ini memiliki semangat yang luar biasa dalam memajukan madrasah yang diembankan kepadanya amanah sebagai guru Seni Budaya dan juga pendidik bagi muridnya.

Bapak Mustofa, Kepala MAN 2 Jombang menyerahkan cinderamata kepada Bapak Totok

Terlahir dari keluarga berpendidikan, mungkin juga mempengaruhi dalam pembentukan kepribadiannya di masa kecil. Beliau menempuh jenjang sekolah dasar di SDN Mancar, lalu berlanjut di SMPN 1 Jombang, hingga beliau menemukan masa sekolah terindah di SMAN 2 Jombang. Tak berhenti sampai di situ, beliau melanjutkan masa  kuliahnya di Universitas Darul Ulum (UNDAR) atas kehendak orang tuanya. Namun di tengah masa perkuliahannya, beliau memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliahnya setelah tertarik untuk bersekolah musik di Yayasan Musik (Yasmi) di Surabaya. Hingga pada tahun 2010, beliau resmi menjadi PNS. Meski kini secara kepegawaian sudah pensiun semangatnya untuk memotivasi dan mendisiplinkan siswa-siswi MAN 2 Jombang tidak surut.

Beberapa civitas pendidikan yang telah diarunginya, membawakan pengalaman bagi beliau sebagai dasar keluarnya ide-ide cemerlang dan penguat prinsip dalam usaha memajukan madrasah. Penerapan disiplin waktu, tempat, dan kebiasaan, contohnya. Dalam usianya yang terbilang cukup tua, tak mematahkan semangat beliau untuk menegur siswa-siswi yang keluar dari kata disiplin. Sehingga tak ayal lagi, jika beliau hapal beberapa muridnya yang sering kepergok melanggar kedisiplinan. Berkat ketegasan beliau, siswa-siswa MAN 2 Jombang bersemangat untuk terus disiplin. Karena jika tidak, siap-siap namanya disebut di speaker lapangan saat pembiasaan pagi.

Selain disiplin, beliau juga sangat aktif dalam bersosialisasi dengan murid-muridnya. Karena menurutnya, setiap mereka memiliki kompeten yang berbeda-beda, hal ini dapat membantu dalam pengembangan ide yang dimilikinya. Sehingga dapat dinyatakan dengan versi yang lebih luas, untuk selanjutnya disatukan dalam konsep yang cukup memukau. Tak heran jika berbagai ajang kompetisi –khususnya bidang nonakademik- yang dicampur tangani beliau, seringkali berbuah prestasi.

Salah satu ide hebatnya tahun 2018 adalah pengadaan penampilan seni Tari Saman di Taman Candi Borobudur, November lalu. Meski tak selancar yang diharapkan, hal ini sudah cukup indah untuk ditulis pada deretan sejarah MAN 2 Jombang di bidang kebudayaan. Karena secara tidak langsung hal ini mengatakan bahwa MAN 2 Jombang telah mampu duduk di kanca Nasional dalam pengenalan seni budaya Indonesia pada warga negara asing. Wah, hebat bukan?

Pentas Tari Saman di salah satu pelataran Candi Borobudur di Bulan Nopember 2018

Kehadiran beliau di lingkungan kita, semoga menjadikan motivasi otodidak. Sehingga lebih banyak lagi guru-guru yang dapat meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Sebab menurunnya kualitas tersebut juga dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Lingkungan sekolah yang mampu menerapkan disiplin dan selalu berusaha mengembangkan ide sederhana menjadi luar biasa adalah salah satu bentuk upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Seperti yang lama digerakkan, “Bahwa satu-dua orang unggul hanya bisa melahirkan beberapa orang unggul. Namun satu saja guru yang unggul mampu melahirkan satu generasi yang unggul.”

Jasamu khan terus kami kenang, Mr. Totok

(hanifah/12P2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *