Efektivitas Skill di Masa Pandemi

Oleh : SUMAILIK

Saya percaya bahwa semua hal memiliki dua sisi yaitu memiliki kelebihan dan kekurangan. (Abdul Aziz Faradi M.Hum.)

           Setiap individu memiliki bakat dan kekurangan masing-masing, setiap profesi memiliki suka dan duka tidak terkecuali profesi sebagai pengajar, apalagi melihat kondisi sekarang ini banyak orang cenderung merasakan dampak negatif dari pandemi saat ini. Jika kita berpikir lebih luas akan banyak sisi positif yang bisa kita temukan, salah satunya di bidang pendidikan yang mengalami perubahan drastis ini bisa membawa kita untuk mengenal dan memanfaatkan teknologi yang berkembang  mulai dari sistem pengajaran hingga penyampaian materi pelajaran ke anak didik.

           Sebagai pengajar, kita dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kondisi pandemi ini. Mau tidak mau, bisa tidak bisa kita harus berpikir dan melakukan strategi dalam proses pembelajaran. Mengingat yang biasanya cukup nyaman melakukan tatap muka secara langsung, tiba-tiba tanpa kita duga proses pembelajarn harus beralih dengan menggunakan pembelajaran dalam jaringan (daring). Menurut Kresna Yahya  Pakar Statistik, menilai sistem pendidikan dituntut beradaptasi di masa pandemi Covid-19. Tenaga pendidik atau guru dipaksa menjalankan metode pembelajaran baru sesuai New Normal.(Media.com)

           Pernyataan tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa guru dituntut tidak hanya belajar bagamaina mengajar, tetapi banyak tugas baru yang menjadikan pengajar sebagai wadah, fasilititator bahkan pelatih bagi para siswanya. Kalau dulu kita datang ke kelas, hanya menjelaskan materi  dan tinggal dibahas. Sekarang mengalami perubahan peran yang memerlukan sikap dan upaya baru dalam menjalankan metode pembelajaran.

           Peran pengajar sudah tidak bisa lagi untuk menilai kualitas siswa berdasarkan satu kelas, melainkan penilaian harus diperhatikan mulai satu persatu peserta didik. Guru harus menggali potensi siswa, termasuk potensi terhadap teknologi. Oleh sebab itu, proses pembelajaran  harus lebih banyak memberikan praktik kepada para siswa secara langsung dan menilai secara kompetensi. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita sebagai pengajar menemukan cara efektif dan inovatif dalam proses penyampaian materi? Melihat kita sebagai pengajar tidak semuanya menguasai teknologi yang berkembang pada zaman ini.

           Pembelajaran  dengan menggunakan media daring (online) salah satu cara yang dipilih pemerintah untuk melanjutkan sistem pembelajaran di masa pandemi memaksa kita sebagai pendidik untuk menentukan strategi yang cocok agar pelajaran bisa tersampaikan dengan maksimal mengingat antara siswa dan pendidik tidak bisa bertatap muka secara langsung. Sehingga para pengajar tidak bisa memastikan keberhasilan dalam proses pembelajaran. Hal ini tentunya diperlukan cara yang efektif dan inovatif dalam proses pembelajaran dalam jaringan (daring).

           Pembelajaran daring yang memanfaatkan penuh teknologi yang ada seperti aplikasi zoom, google meeting, google form, platform e-leraning yang sudah dipersiapkan untuk bisa dipakai kapanpun dibutukan yang memberikan kemudahkan dalam pelaporan kinerja akademik, media sosial dan aplikasi pembelajaran lainnya.  Aplikasi-aplikasi ini tentunya  memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga tugas kita sebagai pendidik harus bisa mengolah aplikasi-aplikasi tersebut hingga sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Misalnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang bisa memanfaatkan media social seperti Youtube, FaceBook, Instagram untuk mengkespresikan kreativitas yang berbentuk karya ( musikalisasi puisi, menulis cerpen, menulis puisi, pentigraf, dan lain-lainnya) dengan harapan akan mendapatkan apresiasi dari semua kalangan. Meskipun kadang terhalang dengan lemahnya jaringan di beberapa daerah tempat tinggal siswa dan tersedianya kuota.

           Inilah tantangan yang harus kita hadapai demi keberhasilan proses pembelajaran dalam jaringan (daring) di musim pandemi. Siswa senang dan guru bahagia. Sehingga pemanfaatan skill yang bisa menyenangkan siswa dinilai menjadi ujung tombak keberhasilan dalam proses pembelajaran daring. Sebab siswa akan senang bila karyanya mendapat apresiasi dari orang lain.

Teknik yang bisa digunakan untuk mengembangkan skill dalam siswa bisa berupa :

 1. Pemberian tugas membuat video kegiatan positif bersama keluarga dalam musim pandemi. Langkah-langkah yang bisa dilakukan :

  • Pengajar memberikan skenario materi tentang kegiatan positif yang bisa dijadikan bahan untuk pembuatan video.
  • Mencari bahan dan didiskusikan lewat grup kelas
  •  Melakukan editing
  •  Langkah yang terakhir, video diunggah ke youtube atau diposting ke Instagram.

2. Membuat musikalisasi puisi

Langkah-langkah yang harus dilakukan :

  • Mengikuti materi lewat aplikasi zoom tentang musikalisasi puisi
  • Diskusi dan menentukan puisi yang akan dijadikan musikalisasi
  • Menyelaraskan dengan lirik dan musiknya
  • Hasil diunggah ke youtube, Facebook, dan Instagram

            Dari hasil kreativitas siswa tersebut tentunya bisa mengundang seseorang untuk mengapresiasi. Hasil apresiasi kemudian dibahas dalam diskusi kelas lewat aplikasi zomm. Kegiatan ini sangat memotivasi siswa untuk mengembangkan idenya dengan maksimal. Semua siswa bisa  merasakan dampaknya dan pembelajaran menjadi menyenangkan. Karena pendidikan merupakan paspor masa depan dan hari esok merupakan milik orang-orang yang mempersiapkan diri pada hari ini (Malcoml). Bahkan menurut Ali Bin Abi Thalib ia pun mengingatkan, ‘Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu,’ ungkapnya. Harapannya semoga kita mampu mengemban amanah sebagai pendidik dengan mempunyai rasa tanggung jawab untuk mencerdasarkan anak bangsa baik secara intelektul maupun moral. Semoga proses kehidupan dapat berjalan normal kembali dengan menciptakan manusia-manusia baru yang memiliki pola pikir dan skill positif yang sarat dengan solidaritas sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *