Jika Sama Dengan Nol

Oleh : Mohammad Kunsarwani

“Milikilah yang sedikit yang tidak dimiliki oleh banyak orang dan bersyukurlah.” – mkunsarwani

Menjadi guru di lembaga formal dengan latar belakang pendidikan non guru bagiku menjadi hal yang membuatku minder atau tidak percaya diri. Ditambah lagi, sekolah tempatku mengajar adalah sebuah madrasah yang berlokasi di dalam pondok pesantren besar dan kebanyakan teman-teman guru di tempatku mengajar adalah alumni perguruan tinggi negeri yang favorit di Jawa Timur khususnya dan sementara aku alumni perguruan tinggi swasta yang saat itu akreditasinya saja masih meragukan.

Maklum saja, aku beranggapan bahwa untuk menjadi guru sudah seharusnya memiliki ijazah sarjana kependidikan bagi mereka yang berangkat dari pendidikan tinggi umum atau tarbiyah bagi mereka yang berangkat dari pendidikan tinggi agama Islam. Jadi, bila dilihat dari gelar yang melekat, seharusnya guru itu memiliki gelar S.Pd., atau S.Pd.I. Sementara bagi guru lulusan sebelum 1990an gelar Drs. atau Dra. memang tidak bisa diketahui secara langsung. Lha gelarku SS, alumni dari perguruan tinggi swasta seakan semakin membuatku tidak nyaman dan merasa tidak cocok bila harus mengajar di sekolah formal milik negara.

Tahun 2006 aku anggap sebagai titik awal perjalanan totalitasku sebagai guru di sebuah madrasah aliyah negeri di kota santri, Jombang. Mengapa demikian? Ya, tentu saja, karena secara formal aku sudah memiliki ijazah sarjana dan boleh mengajar di jenjang pendidikan sma, smk atau ma. Ijazah sarjanaku aku dapatkan pada akhir tahun

  1. 2006. Walaupun begitu, ada hal yang masih membuatku tidak percaya diri dan harus dipenuhi yaitu Ijazah Akta I Ijazah akta IV seakan menjadi SIM yang wajib dimiliki oleh seorang guru yang ingin mengajar. Ibarat orang kehujanan, terlanjur basah ya

sudah mandi sekali. Tidak lama kemudian, tahun 2007 aku mengambil program Akta IV

di universitas yang sama tetapi fakultas berbeda.

Tahun 2007 itu adalah tahun yang bagiku terasa berat. Ada beberapa agenda kegiatan yang harus aku jalankan dalam waktu yang bersamaan. Pertama, sebagai sebuah tuntutan profesi, aku harus menempuh pendidikan program Akta IV yang menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar apabila ingin menjadi guru. Kedua, tanggung jawab keluarga, meski bingung harus sedih atau gembira ketika mendengar berita bahwa istriku mendapat kesempatan untuk mengikuti Short Course di Kanada selama satu bulan. Yang berarti tugasku bertambah, aku harus menjaga anak perempuanku yang sudah mulai masuk dibangku sekolah tingkat dasar. Ketiga, konsekuensi pekerjaan. Di tahun itu pula, aku dan beberapa teman guru ditunjuk menjadi panitia

ujian akhir semester genap dan aku mendapat tugas sebagai sekretaris. Situasi yang sangat sulit saat itu.

“Bagaimana ini, Ummi?” tanyaku pada istri.

“Lha, bagaimana?” Istriku balik bertanya. Kami hanya bengong dan saling memandang

beberapa saat. Kami lalu berdiskusi menghitung-hitung hari.

“Begini saja, Abi bilang Bapak Waka Kurikulum tentang hal ini; Tugas PPL, panitia dan

rencana keberangkatan Ummi ini. Semoga ada solusi.” tambah istriku.

Sebagai guru yang bisa dibilang baru di kelas formal aku tidak bisa menolak ketika ditunjuk menjadi sekretaris. Sebelumnya aku hanyalah seorang pembina ekstra kurikuler dengan ijazah sma. Aku anggap ini adalah kesempatan yang harus aku ambil sebagai sebuah pengakuan keberadaanku di madrasah ini. Oh ya, tugasku semakin terasa berat karena di tahun 2007 itu pula jumlah jam mengajarku agak padat karena aku harus menggantikan tugas dua orang guru bahasa Inggris yang mendapatkan beasiswa ke Bandung.

Beberapa hari setelah musyawarah dengan istriku, aku menyampaikan apa yang menjadi kebingungan kami dan waka kurikulum memahami dengan tetap berharap semua tugas dapat dijalankan dengan baik. Selanjutnya aku sampaikan pula kepada ketua panitia ujian. Aku menyadari sebagai sekretaris panitia tentu banyak hal atau tanggung jawab yang harus dikerjakan. Alhamdulillah, ketua panitia bisa memaklumi

kondisiku. Beliau meminjamkan dan memperbolehkan aku untuk menyalin filenya yang sudah ada dari tahun sebelumnya. Yang membuatku agak shocked adalah sebagian file data itu berbentuk excel. “Excel, owh, excel.” gerutuku. Bagiku yang sudah tidak bisa dibilang muda, walaupun aku juga tidak mau dibilang tua. Ha ha. Komputer sering menjadi ghost buster yang harus dihindari. Jangankan file excel, file word saja harus dihindari, bikin alergi. Komputer bikin keder.

Allah masih kasihan padaku. Aku masih beruntung karena dalam anggota kepanitiaan ada staf tata usaha yang bisa dibilang lumayan mahir sehingga aku bisa belajar darinya. Aku belajar semampuku darinya dan juga dari beberapa buku yang aku sempat baca. Sedikit demi sedikit karena otak ini terasa semakin berbelit ketika diajak berpikir rumit.

Bagaimana dengan PPLku? Aku masih harus melanjutkan program akta IV di madrasah lain. Syukurnya, satu bulan yang memberatkan dan membuatku tidak bisa konsentrasi itu hampir usai. Di hampir akhir perjalanan program tersebut aku minta ijin untuk mengantarkan istri mengurus persyaratan yang harus dipenuhi untuk program short coursenya.

Aku ingat hari itu hari Selasa. Selasa sore itu aku mengantar istri ke Jakarta, ke UIN Syarif Hidayatullah dengan membawa segala dokumen yang memang banyak dan njelimet. Kami naik kereta api eksekutif dari stasiun kereta api Jombang dengan harga tiket Rp. 380.000 per orangnya. Setelah beberapa saat kereta berjalan, petugas menawarkan lebih dahulu mau makan apa dan lalu membawakan kami nasi goreng pesanan kami. Dengan lahap kami memakannya karena kami memang lapar ditambah nasi goreng adalah makanan kesukaanku dan suasananya sore yang mendukung. Kami berfikir itu adalah salah satu fasilitas kereta eksekutif. Setelah selesai makan, petugas datang lagi sambil meminta uang Rp. 50.000. “Lho?” aku terbelalak kaget. “Nasi gorengnya bayar sendiri. Makan jatah dari kereta masih nanti.” jelas sang petugas. “Nasi goreng harga lima puluh ribu.” begitu guyonan kami. Pengalaman lucu

yang memberikan pelajaran berharga. Sambil ngobrol kesana kemari tanpa terasa kami tertidur dan menjelang pagi kami sampai di stasiun Pasar Senin.

Kami kemudian mencari taksi untuk menuju UIN Syarif Hidayatullah. Sesampainya disana hari masih gelap dan kami bingung karena kampus masih tutup. Mondar mandir kami mencari penginapan untuk melepas lelah dan ternyata tidak mendapatkan. Akhirnya dengan memberanikan diri kami meminta izin kepada penjaga keamanan kampus kami istirahat di tempat penjagaan. Lumayan daripada kami harus jalan tak tentu arah. Memasuki waktu sholat subuh kami menunaikan sholat di tempat terdekat dengan bergantian untuk menjaga barang bawaan yang sebagian besar berisi dokumen penting istri.

Seusai sholat, aku dan istriku mencari warung pinggir jalan untuk mengusir rasa lapar semalaman. Yah, saat itulah pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ibunya Indonesia. Istriku menghubungi narahubung yang ada di lembaran pengumuman dan mendapatkan kepastian pukul 9.00 baru bisa ditemui. Sesuai dengan kesepakatan, kami menyerahkan dokumen-dokumen yang memang harus dikumpulkan.

“Bu, paspornya harus diurus di Surabaya.” ucap salah seorang dari mereka. “Masak tidak bisa diproses disini, Mbak?” tanya istriku.

“Tidak bisa.” Mereka kembali menegaskan.

Aku dan istriku saling berpandangan heran dan bingung karena dokumen-dokumen itu harus dikumpulkan paling akhir hari Jumat, yang berarti dua hari lagi. Kami berpikir sebelumnya bahwa paspor itu diurus oleh pihak travel yang sudah ditunjuk. Tinggal menyisakan satu dokumen, ya satu dokumen, paspor. Kami tidak mau berdebat panjang dan akhirnya kami pamitan untuk pulang. Aku tidak ingin istriku kehilangan kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Aku dan istriku kemudian mencari warung untuk makan siang dan setelah itu kami mencari masjid untuk melakukan shalat dhuhur karena memang waktunya sudah memasuki waktu dzuhur.

Setelah makan dan menunaikan shalat, kami memutuskan pulang ke Surabaya naik pesawat. Kami mencari taksi ke Bandara Soekarno Hatta. Sesampainya di bandara kami membeli tiket untuk pesawat yang berangkat hari itu juga. Sebelumnya istriku menghubungi kakaknya untuk membantu pengurusan paspor. Rabu malam kami tiba di Surabaya dan esoknya, hari Kamis, kami selesaikan pengurusan paspor dibantu teman kakak iparku. Selanjutnya Kamis malam kami harus berangkat lagi dengan naik pesawat ke Jakarta karena hari Jumat dokumen harus terkumpul semua. Alhamdulillah, Allah itu Maha Baik. Jika kita betul-betul menyandarkan semua urusan kita kepada Allah dan yakin, Allah pasti memberi jalan keluar dan menyelesaikan semua urusan kita. Karena jadwal yang sangat mepet, kami memutuskan hari Jumat itu pulang ke Surabaya naik pesawat lagi. Jakarta – Surabaya, Surabaya – Jakarta, dan Jakarta – Surabaya kembali dalam waktu Rabu – Jumat. “Naik pesawat gak usah nunggu kaya tapi nunggu terpaksa.” kami berkelakar sambil tertawa bila mengingat hal itu. Sabtu tengah malam, kami tiba kembali di rumah kontrakan kami dan kami tidak bilang apapun tentang kejadian yang kami alami kepada orang tua yang kami mintai tolong untuk menjaga anak kami.

“jika engkau meletakkan ego manusiamu sama dengan nol dan engkau sandarkan

ketidakmampuanmu kepada Tuhan, Tuhan akan menolongmu”

Sabtu pagi aku sudah mulai aktivitasku kembali di madrasah dengan tugas kepanitiaan yang berarti aku berurusan dengan excel kembali. Aku harus kembali meletakkan rasa malu dan gengsiku di titik nol. Aku bertanya teman-teman guru, staf tata usaha, bahkan teman-teman guru komputer yang mengerti excel. Berangkat dari sini ternyata aku menemukan keasyikan bermain dengan excel. Perlahan dan kadang tertahan.

PPL-ku bagaimana? Aku masih menyisakan waktu satu minggu untuk menyelesaikan tugas itu dan aku semakin tidak sabar ingin segera mengakhiri. Sebelumnya aku sudah izin kepada Guru Pamongku dan beliau memberikan izin itu. Dalam ketidaknyamanan aku temukan keasyikan dengan segala cerita yang disertakan. Satu bulan lebih program PPL itu akhirnya usai. Aku masih bisa tersenyum ketika meninggalkan madrasah tempatku belajar menjadi guru. Aku mengajar bahasa Inggris dan kadang juga bahasa Arab.

Ada satu tanggungan pekerjaan yang belum usai. Ya, sekretaris panitia ujian semester genap. Untungnya disini aku sudah mulai sedikit bisa excel meski untuk hal-hal yang ringan, menjumlah dan mengurangi dengan menggunakan fungsi SUM. Mengurangi dan menambah kolom dan baris. Lumayanlah bila dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Seringkali aku harus begadang hanya sekedar untuk membunuh rasa penasaranku tentang excel. Dua minggu berlalu dan akhirnya ujian semester genap pun usai. Terbayar sudah beban berat yang aku rasakan. Tapi petualangan dengan excel dengan belum terselesaikan.

Tahun 2009 aku mendapat kepercayaan menjadi wali kelas. Dari sini aku belajar lebih banyak lagi. Aku membuat file nilai dengan excel. Tentu saja aku lebih mudah untuk membuat ranking dengan menggunakan fungsi RANK. Ketika akhir semester aku meminta izin untuk mengumpulkan leger dengan cetak file excel, sementara yang lain menggunakan tulisan tangan. Sebetulnya alasan utamaku adalah tulisan tanganku jelek dan aku minder. Justru dari sinilah akhirnya teman-teman wali kelas yang lain mengcopy file dan menggunakannya karena lebih cepat. Dari hal ini akhirnya aku mulai memiliki rasa percaya diri dan bisa diterima dengan lebih baik di madrasah. Ai lav zu mai madrasah. Sebetulnya aku tidak lebih baik dibandingkan teman-teman guru lainnya. Aku hanya beranggapan bahwa aku hanya memiliki yang sedikit yang tidak dimiliki oleh orang banyak. “Milikilah yang sedikit yang tidak dimiliki oleh orang banyak dan bersyukurlah.” begitu aku kadang mengingatkan diriku sendiri. Ya, karena dengan memiliki yang sedikit yang tidak dimiliki oleh orang lain kita akan terlihat lebih baik. Tentu saja kita harus tetap berbagi dengan yang sedikit dan terus memperbaiki diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *