Jika Sama Dengan Nol

Oleh : Mohammad Kunsarwani

“Milikilah yang sedikit yang tidak dimiliki oleh banyak orang dan bersyukurlah.” – mkunsarwani

Menjadi guru di lembaga formal dengan latar belakang pendidikan non guru bagiku menjadi hal yang membuatku minder atau tidak percaya diri. Ditambah lagi, sekolah tempatku mengajar adalah sebuah madrasah yang berlokasi di dalam pondok pesantren besar dan kebanyakan teman-teman guru di tempatku mengajar adalah alumni perguruan tinggi negeri yang favorit di Jawa Timur khususnya dan sementara aku alumni perguruan tinggi swasta yang saat itu akreditasinya saja masih meragukan.

Maklum saja, aku beranggapan bahwa untuk menjadi guru sudah seharusnya memiliki ijazah sarjana kependidikan bagi mereka yang berangkat dari pendidikan tinggi umum atau tarbiyah bagi mereka yang berangkat dari pendidikan tinggi agama Islam. Jadi, bila dilihat dari gelar yang melekat, seharusnya guru itu memiliki gelar S.Pd., atau S.Pd.I. Sementara bagi guru lulusan sebelum 1990an gelar Drs. atau Dra. memang tidak bisa diketahui secara langsung. Lha gelarku SS, alumni dari perguruan tinggi swasta seakan semakin membuatku tidak nyaman dan merasa tidak cocok bila harus mengajar di sekolah formal milik negara.

Read more “Jika Sama Dengan Nol”

Efektivitas Skill di Masa Pandemi

Oleh : SUMAILIK

Saya percaya bahwa semua hal memiliki dua sisi yaitu memiliki kelebihan dan kekurangan. (Abdul Aziz Faradi M.Hum.)

           Setiap individu memiliki bakat dan kekurangan masing-masing, setiap profesi memiliki suka dan duka tidak terkecuali profesi sebagai pengajar, apalagi melihat kondisi sekarang ini banyak orang cenderung merasakan dampak negatif dari pandemi saat ini. Jika kita berpikir lebih luas akan banyak sisi positif yang bisa kita temukan, salah satunya di bidang pendidikan yang mengalami perubahan drastis ini bisa membawa kita untuk mengenal dan memanfaatkan teknologi yang berkembang  mulai dari sistem pengajaran hingga penyampaian materi pelajaran ke anak didik.

Read more “Efektivitas Skill di Masa Pandemi”

Malaikat di Pelataran Pasar Manis

Kita tidak hidup dari apa yang telah kita dapatkan tapi kita hidup dari apa yang telah kita berikan.”

       Kalimat paradoks yang jarang disadari banyak orang, tidakkah kita memang hidup dari apa yang telah kita dapatkan? Seperti  harta yang akan kita makan, kasih sayang yang akan kita peluk, ilmu yang akan kita aplikasikan dalam hidup, dan kebahagian yang mewarnai di sela-sela kehidupan. Namun tidakkah kita sadari dari manakah semua ini berasal? Dari manakah asalnya harta jika kita tidak pandai-pandai mengolah harta tersebut. Darimanakah kasih sayang akan tumbuh jika tidak menyayangi, dari manakah bertambahnya ilmu jika tidak memanfaatkannya dan tidakkah kita sering menyadari bahwa  kebahagian tumbuh dari orang yang telah kita bahagiakan.

Read more “Malaikat di Pelataran Pasar Manis”